Home » » Esai Munir Tentang Wiji Thukul

Esai Munir Tentang Wiji Thukul

Wiji Thukul

Esai oleh Munir, SH


Orang bijaksana telah banyak mendatangimu
Untuk memberikan ajaran kebijaksanaannya
Namun aku datang mengambil kebijaksanaan itu
Lihat, lihatlah, kutemukan sesuatu
Yang malah lebih besar dari kebijaksanaan
Itulah sumber semangat dalam dirimu
(Kahlil Gibran dalam Sang Nabi)



Hanya ada satu kata, Lawan! kalimat pendek itu jauh lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul sebagai seorang yang telah menorehkan sebuah puisi perlawanan. Dia telah berhasil menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. Hanya ada satu kata, Lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Tidak ada satu pun kelompok perlawanan yang kemudian tidak menggunakan kalimat pendek itu sebagai tekad bagi sebuah perubahan, tidak peduli itu mahasiswa, buruh, petani, guru, bahkan murid SMU. Memang kalimat itu belum mendunia seluas adagium-adagium kelas dunia seperti "ora et labora" dan "vini vidi vici", tapi memang kalimat pendek itu telah menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul untuk bergabung dengan setiap barisan perlawanan atas rezim militeristik Orde Baru. Pilihan itu memang bukanlah pilihan yang mudah, Wiji Thukul telah membayarnya dengan mahal, ia telah menjadi korban praktik penghilangan orang (Involuntary Dissaperances).

Sebagai seorang aktivis dan seniman rakyat, Wiji Thukul memang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Pilihan untuk kemudian bergabung bersama buruh, dan kaum miskin lainnya dalam sebuah semangat yang semakin menguat, bahwa segala bentuk kemiskinan itu bukanlah semata-mata hadiah dari kekuasaan Tuhan, akan tetapi peluang dan kesempatan itu telah dilahap oleh kekuasaan politik dan modal. Thukul, yang memang lahir dari bagian mereka yang terdepak keras oleh arus alienasi sistem bernegara itu, sadar benar bahwa sebuah perubahan dan perlawanan musti dimulai. Tampaknya, dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat.

Medio Mei 1998, ketika Soeharto lengser dari puncak kekuasaannya, Thukul pun menghilang. Mungkin riuh rendah dan pesta kemenangan ilutif di sekujur tubuh nusantara berakibat orang lupa di mana Thukul berada. Mungkin ketika kita menatap dengan penuh harapan kalimat-kalimat penuh kebohongan Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya, kita lupa adanya biaya yang begitu mahal harus dibayar, jatuhnya banyak korban anak bangsa yang memiliki hati nurani dan bersit harapan Indonesia menjadi bangsa yang berkeadilan. Di momen itulah Thukul terlupakan, dan semua berkata, ... tidak tahu....

Kabar tentang hilangnya Wiji Thukul tidak jelas benar dapat ditangkap. Kalau beberapa aktivis yang lain hilang, dengan cepat langit perpolitikan dan hukum nasional menjadi hangat dengan protes dan kemarahan. Namun, dari waktu ke waktu kabar Thukul hilang menjadi perdebatan keraguan. Sebagian kalangan menyatakan ia tetap ada dan sedang menenangkan diri, menurut sebagian yang lain Thukul telah menjadi korban langkah kasar kekuasaan militer, diculik. Serba ketidakjelasan itu, tampaknya lahir dari kuatnya kepribadian Thukul yang dikenali oleh lingkungannya. Thukul benar-benar sosok militan yang cukup cerdik untuk menggerakkan dirinya dan anggota masyarakat lain untuk peduli akan masa depan. Di balik ketegaran itu, Thukul adalah pribadi yang penuh misteri, seperti banyaknya lompatan misteri di balik puisi-puisinya. Karena kuatnya kepribadian dan pendirian itu, sekaligus dirinya yang penuh misteri itulah beberapa kawan terdekatnya pun Thukul tidak mengalami peristiwa penghilangan orang secara paksa, tapi Thukul memiliki pilihan untuk tidak pernah muncul.

Tapi, lain dengan Sipon, istri tercinta Thukul, justru terus-menerus meyakini Thukul telah diculik oleh alat-alat kekuasaan. Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Thukul tetaplah figur yang didukungnya untuk terus memperjuangkan perubahan dan Sipon pun tak meragukannya. Berbagai pengalaman kehidupan bersama dan berbagai gejala ketidakwajaran di balik ketidakmunculan suaminya, yang sekaligus tokoh perjuangan idolanya itu, telah menuntun Sipon menyimpulkan bahwa Thukul mengalami nasib yang sama dengan beberapa kawan dekatnya yang telah hilang sebelumnya di tangan kekuasaan militer.

Panjang perjalanan misteri untuk mencari jawaban atas tidak munculnya Thukul. Akhirnya, baru hampir dua tahun kemudian ditemukan garis merah bahwa penghilangan itu dilakukan oleh alat-alat negara pada pertengahan Mei 1998, saat detik-detik kekuasaan Soeharto bertahan. Akhirnya, memang Thukul melengkapi daftar orang hilang karena aktivitas politiknya telah menyinggung batas nafsu kekuasaan Orde Baru.

Kisah penghilangan orang ini, dalam sejarah Indonesia telah menorehkan realitas adanya sebuah kejahatan politik oleh negara. Mereka semua yang pernah disuarakan dan berbaris dalam jajaran perlawanan bersamanya telah dihantam oleh cakar-cakar kekuasaan yang tidak kenal bagaimana kekuasaan dipertahankan. Catatlah ribuan orang hilang di Aceh dan Papua, ratusan orang petani yang hilang ketika mempertahankan tanah masa depannya, ribuan orang hilang dalam pergolakan politik sepanjang medio tahun enam puluhan, ratusan orang yang hilang sepanjang berlangsungnya pembantaian besar-besaran atas lawan politik Orde Baru di balik peristiwa Lampung, Priok, kerusuhan Mei 1998, 27 Juli 1996, Haor Koneng, serta politik adu domba dan kegagalan negara bertanggung jawab atas pertikaian antaranggota masyarakat dalam kasus Sambas, Kupang, dst. Catatan itu akan semakin panjang kalau kemudian kita melihat lebih rinci bagaimana Orde Baru dengan kekuatan militernya beroperasi menghancurkan sumber-sumber kekuatan demokratisasi.
***

Penghilangan orang adalah sebuah kejahatan yang berat dan mendasar dari berbagai bentuk pelanggaran HAM. Penghilangan orang itu menjadi bagian dari apa yang disebut Crimes Againt Humanity, yaitu sebuah kejahatan yang dilakukan secara sistematik oleh negara dengan berbagai motif politik antidemokrasi. Kejahatan ini tidak dapat disederhanakan menjadi semata-mata tindakan yang dapat dibenarkan dengan alasan menjaga stabilitas atau ideologi negara. Bukankah soal stabilitas dan ideologi sejauh ini merupakan alat bagi rezim Orde Baru yang melindungi otoritas kekuasaan serta motif-motif ekonomi di dalamnya? Sehingga tidak mungkin kejahatan penghilangan orang ini dilihat sebagai pintasan sejarah buruk Orde Baru tanpa dibongkar kembali atau dipertanggungjawabkan.

Pada akhir tahun 1998, masih jelas di ingatan kita militer menggelar peradilan atas "Tim Mawar", yaitu beberapa perwira muda Kopassus yang mengaku sebagai pahlawan hati nurani untuk rezim Orde Baru yang telah melakukan penculikan terhadap beberapa aktivis. Peradilan yang berlangsung setengah hati itu berlangsung ibarat kilatan kamuflase politik untuk menutup apa yang sebenarnya terjadi dalam "politik penghilangan orang" sepanjang Orde Baru. Tentu sulit diterima akal sehat para perwira muda itu mengambil keputusan untuk melakukan penculikan terhadap para aktivis politik di berbagai wilayah negara, lintas provinsi, lintas pulau, menyekap para aktivis tersebut selama tiga bulan sampai satu setengah tahun tanpa persetujuan dan modalitas negara. Operasi itu jauh melampaui kapasitas mereka, bagaimana mungkin perwira menengah Kopassus dapat memaksa beberapa Pangdam untuk tidak menghalangi operasi penculikan. Kapolri terpaksa menjadikan diri bamper kekuasaan untuk mengklaim kepada publik bahwa penculikan itu adalah tindakan kepolisian sebagai langkah polisionil, dan seterusnya. Dengan sedikit menggunakan akal sehat, pasti kita akan katakan ini semua hanyalah akal-akalan penghindaran tanggung jawab negara.

Dewan Kehormatan Perwira (DKP) muncul untuk memberikan jawaban atas berbagai langkah kehilangan logika yang dilakukan dari skenario "Tim Mawar". Akan tetapi, sekali lagi para jenderal itu dicopot dari jabatan dengan berbagai alasan yang penuh kekaburan. Tampak DKP merupakan langkah untuk menempatkan semua pertanggungjawaban politik negara atas berbagai praktik kejahatan kemanusiaan itu pada beberapa orang semata, seolah Orde Baru hanyalah urusan beberapa oknum itu. Kepada publik permainan DKP itu diumummkan sebagai hasil kerja multifungsi, yaitu untuk memberikan jawaban terhadap kasus penghilangan orang, tetapi juga terhadap kejahatan kemanusiaan yang berlangsung bulan Mei 1998. Segeralah upaya mempertahankan diri dari pertanggungjawaban itu dipaksakan bahwa semua tindakan penghilangan orang telah dipertanggungjawabkan. Dan tentunya pengakuan yang diperoleh sangat terbatas, bahwa militer hanya menculik para aktivis dan kemudian telah dipulangkan.

Kembali misteri tidak terjawab, di mana para aktivis yang diculik itu berada. Tetaplah kejahatan itu tidak terjawab. Dan kini, semua ini masih harus berhadapan dengan sisa-sisa resistensi militer dan Orde Baru untuk bertindak jujur menjelaskan keberadaan mereka yang dihilangkan dan bertanggung jawab atasnya. Tentunya perjuangan ke arah itu masih panjang, tapi sekali ini semua kejahatan kemanusiaan harus dilawan. Dan Thukul adalah guru kita bersama untuk melawannya. Untuk itu hanya ada satu kata, Lawan!


Sumber: Buku Kumpulan Puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesia Tera Magelang, April 2004

Share This Post :

0 komentar:

Posting Komentar

Wiji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963) adalah sastrawan dan aktivis pro-demokrasi berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang giat melawan penindasan rezim Orde Baru. Pasca Peristiwa 27 Juli 1996, sekitar bulan-bulan menjelang kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya. Dia dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer Orde Baru.

Social Media Sharing by Wiji Thukul

Hanya Satu Kata: Lawan!

Nyanyian Akar Rumput-Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul

Laman Gramedia

Buku Terkait Wiji Thukul


AKU INGIN JADI PELURU

Pengarang : Wiji Thukul
Pengantar : Munir
Penerbit : IndonesiaTera, Yogyakarta
Tahun : 2004 (cetakan kedua)
Tebal : xxiv + 223 halaman

Deskripsi :Buku ini mencoba menampilkan sosok kepenyairan Wiji Thukul secara lengkap. Untuk itu, hampir semua sajak Wiji Thukul tampil dalam kumpulan ini, termasuk sajak-sajak yang ditulisnya selama masa “pelarian”, hingga tak lagi diketahui keberadaannya.

Nyanyian Akar Rumput-kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
ISBN 9786020302898
Berat 0.30 kg
Tanggal Terbit 28 Februari 2014
Halaman 200


Aku Ingin Jadi Peluru – Wiji Thukul

ISBN: 978-9671-307-70-0

Penerbit Obscura bersama Kedai Hitam Putih, Kota Bharu, Kelantan. Terbitan dengan izin daripada keluarga Wiji Thukul untuk edisi Malaysia.

Turut terkandung: Esei iringan oleh Munir, wawancara bersama Wiji Thukul ‘Seniman Harus Memperjuangkan Gagasannya’ dan pengantar Edisi Malaysia oleh Hafiz Hamzah.


 
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design